Begitu ajakan seorang teman yang getol mengejar lokasi kuliner nan nyaman di Bandung. Tanpa basa-basi lagi, kendaraan pun segera beriringan menjauhi pusat kawasan Dago yang masih disibukkan dengan lalu-lalang kendaraan. Udara makin terasa sejuk ketika jalan Dago Pakar Timur dijajaki. Tak lama kemudian, bangunan berkonstruksi kayu di sebelah kanan jalan itu ditemukan, dibangun meniti lereng, untuk menyuguhkan kecantikan lain dari kota Bandung.
Meski berada di atas bukit, beberapa lokasi wisata di kawasan utara Bandung memang dapat dicapai dengan kendaraan roda empat. Ini tentu menjadi keuntungan tersendiri, tatkala keinginan berekreasi dengan teman, kekasih, hingga kolega bisnis menuntut dipenuhi. Setelah memarkir kendaraan di areal yang tidak terlalu luas, rasa penasaran masih menggerenjul dalam hati. Mengapa tempat ini begitu akrab di telinga penggemar wisata kota?
Namun begitu menuruni tangga masuk, jawaban demi jawaban mulai terjawab. Pemandangan yang ditawarkan Lisung memang bukan sekadar melihat kota Bandung dari atas bukit. Pemandangan tidak akan ada artinya tanpa kenyamanan tempat duduk, ramahnya pelayan yang mengayomi para tamu, hingga sajian hidangan yang variatif. Untuk yang terakhir ini, berbagai menu seperti nasi panggang, nasi goreng, sop buntut, sandwich, zupa-zupa, pizza, hingga spaghetty dapat ditemui di sini.
Saat dihubungi terpisah, Manager Operasional Lisung, Iwan, menuturkan pada MD bahwa menu yang dibuat memang berusaha melingkupi masakan Indonesia dan Western. Pria yang sebelumnya berlakon sebagai Chef hotel tersebut menjelaskan bahwa sajian makanan harus menyesuaikan dengan selera dan saku konsumen, sekaligus mengikuti perkembangan. “Bagaimana caranya agar penyajian makanan dapat dilakukan dengan cepat, tanpa berpengaruh pada rasa makanan, dan dijual dengan harga murah,” papar lelaki kelahiran Cilacap tersebut dengan antusias.
Menu
Kebutuhan yang saling bersinggungan tersebut pada akhirnya membuahkan resep menu yang unik sekaligus pas di lidah wisatawan lokal. Sebut saja kreasi seperti menu unggulan Nasi Panggang Lisung yang merupakan nasi bakar isi jamur, tauge, dan ati ampela. Penyajiannya sendiri dibarengi dengan ayam goreng, tahu, tempe, dan kerupuk. Lalu Nasi Panggang Koempeni yang ditaburi small beef, jamur, irisan bawang bombay, lalu ditutup dengan taburan keju mozarela sebelum dipanggang hingga keju mencair. Anehnya, menu unggulan bagi Lisung bukan menu tersebut paling laris dipesan. Pengunjung justru lebih sering memesan Sop Buntut Pedas, bahkan bila dibandingkan dengan menu sejenis, seperti Sop Buntut Kuah, dan Sop Iga. “Mungkin karena suhu di sini (dingin), pengunjung lebih memilih masakan pedas,” kata Iwan.
Lain lagi dengan Danny, salah seorang pengunjung Lisung yang memilih Nasi Liwet Lisung karena ekonomis, sekaligus menyenangkan menyantap nasi hangat di tengah udara dingin. Kali itu ia memang datang bersama serombongan teman-teman, sehingga memilih makanan yang bisa dikecap selera bersama. Sedang Henne memilih berganti makanan setiap kali datang. “Kadang nasgor, kadang steak, atau timbel. Semua dicoba aja,” ujar gadis yang sering mengunjungi Lisung.
Untuk pilihan minuman racikan cokelat, teh, maupun kopi tentu bisa jadi peneman udara dingin yang menarik. Uniknya, tampilan menu dinami dengan lagu atau band mancanegara, seperti The Clash untuk hot and cold coffee, Nice Dream (Radiohead) untuk cold chocolate, Dark Shine (Muse) untuk mix cold coffee. Namun Anda juga masih dapat memilih aneka minuman lain, seperti Blue Stone dan Blossom Diary untuk mocktail. “Mungkin pemiliknya nge-fans band-band itu,” kelakar Danny yang gemar memesan Lisung Tea.
View
Sedang menurut Yanwar yang datang bersama isterinya, Lisung menjadi tujuan demi pemandangan yang menarik. Soal menu yang disajikan hanya menjadi opsi nomor dua, karena tempat yang mengasyikkan akan membuat makanan apapun terasa nikmat. “Coba saja kalau Mas datang malam minggu ke sini. Jangankan nikmat,
kiri-kanan malah penuh orang, antrian mobil sampai ke bawah,” terangnya bersemangat, diiyakan sang isteri yang tersenyum di sebelahnya. Tak ayal, janji keindahan pemandangan tersebut membuat para kawula muda Bandung yang menginginkan romansa bersama kekasih, memilih Lisung sebagai tempat favorit seperti Henne yang menjadikan Lisung sebagi lokasi favorit bersama si Cinta.
Bukan itu saja, para selebritis hingga tokoh politik pun terlanjur terpincut keindahan Lisung. Seperti halnya Aming yang melaunching filem terbarunya di awal 2010 lalu, atau Luna Maya yang acapkali membuat para pelayan tertegun saat melayani di tiap kunjungannya. “Banyak sebetulnya artis yang datang, tapi saya baru dikasih tahu teman-teman setelah mereka pulang. Maklum, kurang banyak tahu soal selebritis,” jelas Iwan merendah. Ditambahkannya, pemandangan dengan makanan peneman yang tidak menguras saku memang membuat pejabat sekelas pejabat nasional pun senang berkunjung. Sebut saja Wagub Jabar Dede Yusuf, Direktur Ekonit Rizal Ramli, hingga Kabareskrim Polri Ito Sumardi.
Interior dan Eksterior
Menurut Yanwar, pengunjung betah melihat pemandangan karena mereka mendapat barang yang nyaman sekaligus unik. Lelaki bermata sipit itu menambahkan kalau pengunjung yang datang di siang hari mungkin belum dapat merasakan sensasi pemandangan sebenarnya, tetapi yang penting mereka merasa nyaman untuk duduk dan menghabiskan makanan yang cukup enak. “Ini, Mas, bangku kayu, lalu meja kayu, saung, atau tanamannya. Ini semua yang bisa bikin kita betah ‘nunggu malam, bahkan di tengah udara dingin,” jelasnya sambil menyeruput Nice Dream. Sedang Iwan “Lisung” menjelaskan bahwa filosofi bangunan yang menuntut penyesuaian dekorasi interior, sebenarnya dipilih mengikuti nama Lisung sendiri. Dengan arti kata alat penumbuk padi yang digunakan untuk menghasilkan beras secara tradisional, bangunan kayu dan perabotan tradisional pendukung akan menjadi menarik dengan harga murah. “Kami untung di dua sisi, karena bangunan dan perlengkapan tidak terlampau mahal, tapi kesan uniknya juga menonjol,” ucapnya renyah.
Ditambahkan Iwan, konsep tempat yang ingin dicapai sendiri sebenarnya soal harga. Bagian depan Lisung misalnya, sengaja tidak diutak-atik terlalu banyak, agar para pengunjung pertama kali tidak mendapat kesan tempat yang mahal. “Saya ingin Lisung terlihat seperti warung saja. Itu lebih baik ketimbang pelanggan enggan berkunjung karena takut tidak sanggup membayar,” seloroh lelaki yang mengaku mencetuskan ide pendirian Lisung ini.
Pelayanan
Jika tempat dan peralatan sudah memadai, tentu tidak mungkin pelanggan betah berkunjung dengan layanan yang buruk. Selidik punya selidik, Iwan ternyata menerapkan pola manajemen “bapak dan anak” pada bawahannya. Menurut lelaki bekepala plontos tersebut, tipe manajemen vertikal sudah dibuktikannya dengan akibat pegawai yang rentan keluar-masuk. “Malah jadi menambah pekerjaan untuk supervisor, karena harus selalu mengarahkan dan mengajarkan orang-orang baru,” keluhnya. Sedangkan dengan pola manajemen horizontal yang digunakannya, karyawan menjadi lebih santai mengerjakan tugas-tugas mereka, tanpa mesti menelantarkan tanggung jawab yang diberikan. Dengan teladan ini pula, 35 karyawan Lisung dapat mengayomi para pelanggan dengan ramah, rajin menjaga kebersihan tempat, hingga telaten mengurus taman.
Meski demikian, Iwan tidak menutup adanya komplain dari pelanggan Lisung. Dikisahkannya, salah satu pengunjung pernah menggerutu karena lamanya menerima pesanan. Iwan yang kebetulan lewat dekat situ, serta-merta memohon maaf dan mengambil alih pesanan tersebut. “Langsung saya ke dapur dan membuatkan sendiri pesanannya,” cerita Iwan. Dilanjutkannya, sikap ini penting untuk menunjukkan bahwa Lisung bukan manajemen yang kaku, tapi justru sebaliknya, sangat terbuka terhadap komplain pelanggan. “Silahkan kontak langsung Pak Iwan saja kalau ada apa-apa,” janji lelaki bertubuh gempal tersebut. “Termasuk jika perlu negosiasi harga untuk acara kegiatan dengan budget terbatas,” tambahnya.
Seiring waktu yang mulai beranjak malam, lampu-lampu mulai dinyalakan di sana-sini. Wujud unggulan Lisung mulai nampak. Areal taman menjadi kian anggun dalam paduan warna rumput gelap dan cahaya lampu kuning. Rombongan-rombongan lain mulai berdatangan, sedang saya sendiri terpaksa meminta pulang lebih awal akibat dinginnya cuaca yang menerobos kulit tanpa jaket memadai. “Bayar dulu ya,” gurau seorang teman, tetapi sempat membuat hati sedikit berdegup karena tidak ingat harga-harga pada menu.
“Semuanya Rp 55.000, Mas,” ucap kasir dengan ramah. Saya mengelus dada sambil beradu-cepat dengan langit yang semakin gelap, mengejar pusat kota yang lebih hangat. Di halaman parkir, kendaraan pengunjung lain sudah saling menutupi jalan keluar. Namun, tentu saja, kepadatan tersebut tidak pernah menjadi penghalang untuk merasakan indahnya pemandangan, bertemanhidangan murah, di Lisung.
sent to MegaDiskon.com @ 13 Jan 2010
Posted by fulfilldesire