[sebelum baca tulisan ini, perlu dijelasin dikit...
1. kalo ini tulisan dibuat bukan karna jadi mahasiswa jurusan TI, tapi karna ada mahasiswa di jurusan itu minta dibuatin tulisan untuk tugas salah satu mata kuliahnya…(sambil nyalurin hobi, dibayar orang…asik cuy!)
2. tulisan ini semi terjemahan dari makalah Carr dengan judul yg sama (baca: beda di sub-judulnya). Makalah itu dibuat tahun 2003, sebelum Carr nerbitin bukunya setahun kemudian.
3. sekalian juga di sini, beberapa referensi didapet dari: Catatan Snug – IT Doesn’t Matter | Memudarnya Kedigjayaan Teknologi Informasi (Resensi Buku dari Swa.com) | Menggali Potensi Manusia dengan People Ready – Eko Widodo (Sinar Harapan, 6 September 2007)
4. terakhir…. tulisan ini beres dibikin tanggal 19 November 2008 lalu.]
Membedah Carr, Menilai TI Indonesia
Teknologi Informasi bukan hal terpenting. (IT Doesn’t Matter) Seandainya kalimat itu muncul dari mulut presiden SBY dalam kuliah singkat Bill Gates beberapa waktu lalu, milyuder perusahaan micro-chip tersebut tentu segera menarik seluruh investasinya di Indonesia, termasuk bonus software untuk keluarga presiden. Akan tetapi, Nicholas G Carr yang mengucapkan, makna yang dikandung pun menjadi lain. Bagaikan ramalan peristiwa seorang pakar metafisis, staff pengajar di universitas Harvard tersebut menguak ujung revolusi teknologi informasi. Menurutnya, persaingan produk TI sudah tidak lagi mampu memberikan keutungan bagi perusahaan produsen, sebagai dampak dari mewabahnya produsen TI itu sendiri. Benarkah demikian? Bukankah atas dasar persaingan bisnis teknologi informasi (justru) berkembang demikian cepat dan masif?
I. CARR DAN TEKNOLOGI INFORMASI
Cepatnya perkembangan produk-produk TI yang berdasar dari komputer memang mengagumkan. Setelah dikenalnya komputer pribadi pada awal 80’an, jumlah perusahaan bidang TI di AS tercatat sebanyak 15%. Di awal 90’an, jumlahnya sudah mencapai 30%, dan hanya dalam satu dekade kembali naik menjadi 50%. Padahal, ketika Ted Hoff, seorang pekerja Intel Corporation, di tahun 1968 menemukan inovasi sirkuit penting bagi proses komputer, jumlah perusahaan yang “tertarik” hanya sebesar 5% saja. Lebih dari itu, wabah revolusi IT ternyata tidak berhenti dalam satu geografis tertentu – melainkan merasuk ke belahan dunia lain, karena dengan cepat pula diserap dan dikembangkan sedemikian rupa.
Menurut Carr, revolusi ini didasari pandangan bahwa teknologi tersebut merupakan suatu hal yang “tanpa batas”, sehingga dapat terus berkembang dan dikembangkan. Banyak para petinggi perusahaan 20 tahun lalu misalnya, hanya mampu mendelegasikan tugas-tugas yang berhubungan dengan komputer pada sekretaris ataupun bawahan lainnya. Hari ini, seorang direktur eksekutif akan selalu mengisi hari-harinya dengan mengadakan rapat yang membahas teknologi informasi sebagai dasar kemajuan perusahaan. TI telah berkembang dari sebuah potensi strategis pengembangan menjadi alat untuk mencapai keberhasilan lebih banyak dalam ranah produksi.
Dengan penggunaannya yang mencakup multi-bidang, fitur-fitur TI terus bertambah dari hari ke hari. Akan tetapi, harga untuk mendapatkan layanan tersebut semakin murah, akibat terjadinya persaingan mendapatkan kemajuan (teknologi baru) antar perusahaan produsen dengan asumsi bahwa perusahaan yang memiliki teknologi terdepan secara otomatis merupakan perusahaan yang berprofit paling tinggi. Permasalahannya kemudian adalah ketika jumlah teknologi baru yang terus muncul, di sisi lain justru menegasikan TI sebagai produk, dan membuat perannya menjadi hal yang lumrah. Ketika TI menjadi lumrah sebagai komoditas, penghargaan orang terhadap teknologi menjadi berkurang – dan karenanya kembali menurunkan harga jual produk tersebut.
1. Teknologi di Ambang Batas
Dicontohkan Carr dari sektor lain, sebuah perusahaan konsumsi (misalnya) memiliki dua keunggulan dalam persaingan, yaitu kemampuan menciptakan produk dan perlindungan hak cipta. Jika diasumsikan kompetitor berhasil mencapai kemampuan yang sama dalam penciptaan produk, perusahaan masih memiliki proteksi terhadap produknya. Hal ini tentu memudahkan perusahaan untuk mengembangkan strategi jangka panjang, dan tetap menjaga jarak keuntungan dari para pesaing.
Sedangkan bagi perusahaan teknologi infrastruktur – seperti teknologi informasi, posisi demikian justru bisa berdampak negatif. Kemampuan pengembangan yang hanya dimiliki sedikit perusahaan, justru mengecilkan peluang meraih keuntungan lebih banyak. Lihat saja bila di awal abad 20 hanya satu atau beberapa perusahaan yang menguasai pembangunan industri kereta api. Tentu perusahaan tersebut dapat mengeruk keuntungan dari mulai menciptakan hingga memasang rel, menciptakan bagian-bagian lokomotif hingga merangkainya, bahkan pemasukan dari membawa dan memasangkan lokomotif tersebut ke atas rel. Akan tetapi, beban pengeluaran yang mesti ditanggung perusahaan pun menjadi lebih banyak dan panjang, misalnya jika dihadapkan pada pembagunan rek kereta lintas Negara seperti di benua Eropa. Sehingga, dalam ekonomi yang lebih luas, perusahaan infrastruktur haruslah mampu menciptakan peluang kerjasama dengan perusahaan terkait untuk meminimalisir pengeluaran mereka.
Dalam hal ini – selain memiliki karakteristik ekonomi terbuka – perusahaan infrastruktur juga bersaing tidak sebatas kecanggihan teknologi masing-masing. Bahwa kemutakhiran tersebut menjadi ajang kompetisi memang tidak perlu diragukan lagi, tetapi persaingan juga terjadi dalam hal inovasi terhadap kemutakhiran yang ada. Seperti dalam kasus perkembangan perusahaan jasa listrik yang sempat mengalami peningkatan signifikan dengan dikenalmya generator listrik. Banyak industri segera menggunakan alat tersebut sebagai penambah pasokan listrik utamanya, dan banyak perusahaan distribusi dan supplier mulai berdiri. Akan tetapi, perusahaan yang cerdik menangkap peluang tersebut dengan membuat inovasi generator dengan memasangi peralatannya di atas kendaraan bermotor, sehingga dapat digunakan untuk perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki banyak dana untuk memasang generator statis. Inovasi ini tentu sangat berguna bagi perusahaan yang hanya membutuhkan generator sewaktu-waktu tanpa harus memikirkan biaya pemasangan peralatan seperti pada generator statis, tetapi pada intinya, kemajuan peluang di sector ini hanya menambah jumlah investasi yang masuk – dan itu berarti kemajuan masih belum berhenti.
Perkembangan serupa ditemukan dalam industry kereta api, ketika sebelumnya banyak orang berpendapat bahwa mesin tersebut tidak akan mampu bersaing dengan kapal uap, tetapi dengan kecepatan dan daya tampung penumpang yang melebihi kapal uap, industri kereta api justru mendulang keberhasilan secara gemilang. Apalagi ketika industry kereta apilah yang menentukan keberhasilan perluasan ekonomi AS. Dengan kemampuan tersebut, jutaan investasi mulai berpindah ke sektor kereta api. Sehingga Eric howbsbamb dalam laporannya (The Age of Capital) menuliskan bahwa selama 30 tahun antara 1846-1876, jumlah rel kereta api telah bertambah dari 17.242 kilometer menjadi 309.641 kilometer. Di Eropa, kabel telegraf yang terpasang sepanjang 2.000 mil pada 1849, meningkat menjadi 110.000 20 tahun kemudian. Sedangkan industri listrik di tahun 1889 hanya memiliki 468 pembangkit, meningkat menjadi 4.364 pada tahun 1917.
Dengan pesatnya perkembangan ini, Carr meyakini bahwa dampak dari kejatuhan ekonomi akibat merosotnya harga jual yang dikemukakan banyak pengamat ekonomi didasari oleh membludaknya investasi di sektor-sektor infrastruktur teknologi informasi dalam kurun waktu 1860 hingga 1990 sebagai sejarah yang mungkin dapat terulang dalam waktu dekat. Meskipun ekonomi internasional berhasil bangkit kembali dan menghasilkan banyak perusahaan multinasional yang memiliki landasan ekonomi demikian kuat – dan sangat prospektif di masa depan seperti yang ditulis DS Landes, tetapi bukan berarti sector infrastruktur seperti teknologi informasi tidak akan mengalami kejatuhan kedua kali. Dengan kata lain, semua kalangan berharap tidak terjadi lagi, tetapi sangat berbahaya dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi.
2. TI sebagai Komoditas
Lebih jauh tentang teknologi informasi terkini, Carr mengakui banyak pihak masih membenarkan adanya kompleksitas tertentu dalam mengembangkan sector ini. Namun, menurutnya hal ini bukan berarti tidak mampu diatasi, seperti contoh pengembangan jaringan computer yang demikian cepat; dimulai dari sebuah computer tanpa koneksi di rumahan, menjadi computer berjaringan local di tempat kerja, hingga computer yang difungsikan sebagai media jaringan kerja dari rumahan ke belahan dunia lain melalui perkembangan internet.
Perkembangan computer yang dimaksud di sini perlu dilihat dari sisi penggunaan yang demikian tinggi, karena didasarkan pada kemudahan perangkat kompleks tersebut. Dari sekian kerumitan yang mestinya dihadapi para pengguna, perusahaan-perusahaan teknologi informasi berhasil mengembangkan piranti lunak mereka sampai pada tingkat yang signifikan. Jika seseorang hari ini diharuskan menulis surat dan mengirimkannya melalui surat elektronik, ia tentu tidak akan membuat aplikasi tertentu lebih dulu, tetapi cukup membeli piranti yang dikhususkan untuk hal itu. Bahkan, orang tersebut bisa mendapatkan kelebihan lain dari piranti yang dibelinya, seperti kemampuan membuat table, hingga tampilan artistic yang membuat para pengguna nyaman mengerjakan niat awalnya.
Menurut Carr, banyak perusahaan saat ini sudah melakukan kustomisasi terhadap pekerjaan-pekerjaan rutin yang dilakukan seseorang. Tidak berhenti di situ, perusahaan TI juga terus mengembangkan inovasi mereka dengan menciptakan kustom lain, misalnya tentang rangkaian pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan seseorang. Seperti halnya ketika teknologi internet dikenalkan ke public, maka banyak perusahaan segera berlomba membuat situs mereka. Ketika sudah semakin banyak perusahaan yang mampu menciptakan situs, muncul pula perusahaan lain yang memberikan aplikasi cara membuat situs dengan mudah, sehingga seorang anak sekolah dasar pun mampu menciptakan situs sendiri.
Demikian merasuknya TI sebagai produk unggulan yang menjanjikan keuntungan, hingga setiap orang berlomba untuk menggunakannya. Akibatnya terlihat di kemudian hari, ketika setiap orang tidak lagi menganggap bahwa kemajuan dalam teknologi informasi adalah suatu hal yang mengagumkan, dan menganggap bahwa teknologi informasi adalah suatu hal yang lumrah dikembangkan – asalkan mau berusaha sedikit saja. Dalam hal ini, penekanannya terletak pada menurunnya daya jual suatu produk TI yang tidak hanya berasal dari persaingan antar produsen semata, tetapi juga implikasi ganda dari penjualan produk yang murah tersebut.
Sampai di sini, perlu digarisbawahi bahwa tipe pengguna teknologi informasi dengan demikian terbagi menjadi dua bentuk sebagai berikut.
- Pengguna yang beranggapan bahwa TI tidak mungkin mengalami kejatuhan kedua kali
- Pengguna yang beranggapan bahwa TI hanyalah penemuan biasa yang bisa diperoleh secara mudah
3. Tentang Perusahaan Produsen TI
Meskipun masing-masing pandangan tersebut memiliki dasar masing-masing, tetapi implikasi signifkannya tetap berujung pada perusahaan produsen teknologi informasi. Seperti dalam Forum Eknomi Internasional (2003) di Davos, Swiss, Bill Joy, Kepala Ilmuwan dan Pendiri perusahaan Sun Micro-system melemparkan pertanyaan yang menurutnya menyakitkan, “Bagaimana jika kenyataan saat ini adalah bahwa semua orang sudah membeli seluruh barang yang ingin mereka miliki?”
Pertanyaan reflektif tersebut merupakan pertanyaan untuk para produsen computer seperti dirinya, karena banyak hal yang dapa diungkapkan jikalau sebuah perusahaan TI telah menciptakan berbagai kemajuan dan kemampuan untuk terus berkembang tanpa batas. Akan tetapi, meskipun itu sebuah kenyataan, tetapi TI tetap memiliki keterbatasan terhadap ruang monopolistic dan oligarki, sehingga perusahaan lain seperti IBM, Sun, Oracle, terus berkompetisi dalam ranah pengembangan web. Persaingan ini melanjutkan transformasi TI menjadi komoditi, menuju konsolidasi banyak sector dari industry TI. Pemenangnya tentu sebuah perusahaan yang sanggup mengombinasi pekerjaan berbagai perusahaan tersebut.
Gordon Moore (seorang pengamat TI?) memprediksikan pengamatannya yang terkenal, dengan mengatakan bahwa perkembangan TI di kemudian hari akan mengalami dua hal, yaitu:
- Kemajuan penciptaan prosesor computer akan terjadi setiap dua tahun
- Kemajuan tersebut mengakibatkan anjloknya harga prosesor
Sebuah prediksi yang tepat ketika dalam perkembangan nyatanya, biaya power processing dari harga USD 480 setiap satu juta perintah per detik (MIPS) di tahun 1978, turun ke USD 50 MIPS pada tahun 1985, sebelum menjadi USD 4 MIPS pada tahun 1995. Contoh lainnya ditemukan dalam perkembangan mikro-prosesor yang berkembang sebanyak 66.000 unit sepanjang 1989-2001, ataupun internet computer yang berkembang dari 80.000 ke 125 juta pengguna.
4. Pesatnya Komoditasi TI dan Penanggulangannya
Cepatnya perkembangan teknologi yang dicuplik Gordon Moore, dalam pandangan Carr merupakan gambaran dari cepatnya perubahan teknologi informasi sebagai produk unggulan yang menjanjikan keuntungan, menjadi produk komoditas. Seperti gambaran AHS (sebuah distributor peralatan rumah sakit) yang mengenalkan system ASAP (Analytic System Automatic Purcashing) dengan menjadikan computer sebagai alat transaksi otomatis di tahun 1976, mengalami peningkatan signifikan pemasukan perusahaan rumah sakit karena olah digital yang meningkatkan efisiensi pengeluaran mereka. AHS sendiri sempat mengalami masa kejayaan ketika selama beberapa tahun setelahnya, masih tidak ada satu perusahaan pun yang mampu menciptakan produk unggulan sejenis, sehingga Pemasukan AHS meningkat selama beberapa tahun dari 1978-1983 dari 13% per tahun menjadi 18% per tahun. Akan tetapi, keberhasilan ASAP tersebut langsung ambruk ketika jaringan computer dikenalkan perusahaan lainnya. Dengan ironis, AHS merger dengan Baxter Travenol – anak perusahaan Baxter Internasional – di tahun 1990.
Meskipun tidak ada orang yang sanggup menentukan secara spesifik akhir suatu teknologi infrastruktur, tetapi yang nyata Nampak adalah bahwa setiap penemuan lebih cepat mendekati akhir setelah diproduksi, ketimbang lamanya proses penciptaan produk itu sendiri. Hal ini karena (pertama), kecanggihan TI melebihi yang kebutuhan perusahaan penggunanya. (Kedua) harga TI yang berfungsi secara esensial selalu turun sesuai sedikit atau banyaknya pengguna system tersebut. (Ketiga) kapasitas penjualan dan distribusi melalui jaringan internasional (internet) berhasil menangkap kebutuhan tersebut, meskipun pengembangan TI sendiri menuju penggunaan fiber optic belum berhenti – sehingga dapat dikatakan bahwa sumber-sumber alat dalam hal distribusi sangat luas. (Keempat) produsen TI merangkap menjadi supplier hasil produksinya atau sebagai penyedia komoditas. (Kelima) investasi dalam bidang TI sudah mencapai titik kulminasi dengan tidak adanya pengembangan superior yang dapat menjadikan sebuah perusahaan memimpin penjualan teknologi. Beberapa perusahaan memang dapat tetap menunjukkan posisi mereka sebagai pemimpin sector TI, tetapi bukan berarti keuntungan mereka juga berada paling depan.
Wall Mart dan Dell Komputer Sistem adalah salah satu perusahaan computer yang turut mengembangkan inovasi computer dan menjadikannya sebagai produk unggulan. Akan tetapi, mereka cepat menyadari bahwa persaingan di ranah tersebut sudah tidak lagi menjanjikan keuntungan di masa depan. Hal terbaik dari persaingan di sini adalah secepat mungkin mengembangakan piranti lunak menjadi system aplikasi, atau sebatas memproduksi dan mendistribusikan piranti lunak yang diciptakan pihak lain.
TI mungkin menjadi komoditas, dan ongkos pengadaan teknologi mutakhirnya dapat dibagikan melalui kerjasama dengan perusahaan lain – meskipun secara faktuil, hubungan dengan banyak perusahaan lain juga memakan biaya yang tidak sedikit. Sehingga bagi perusahaan besar, tidak mungkin sekedar duduk menunggu pendapatan setelah mendapatkan keuntungan teknologi tersebut, tetapi segera menemukan keuntungan tertinggi dari teknologi tersebut, kemudian menjual teknologi yang tidak terlalu bermanfaat baginya ke perusahaan lain. Hal ini karena banyak perusahaan hanya melihat perkembangan TI sebagai suatu hal yang perlu diikuti. Mereka mengganti secara berkala computer yang dimiliki untuk mendapatkan teknologi terbaru, padahal kebutuhan sehari-hari penggunanya hanya sebatas mengetik dan membuat table keuangan, mengirim surat elektronik, hingga menjelajah internet.
5. Dari Aktif menjadi Pasif
Jadi, sebenarnya apa yang kebijakan yang mesti diambil perusahaan? Pelajaran berharga yang pantas dipelajari dalam persaingan kecanggihan teknologi sebelumnya adalah: ketika sumber-sumber teknologi mampu menjawab persaingan tetapi tidak menjawab pemasukan keuangan, berarti resiko kerugian dari pembuatan teknologi baru lebih tinggi dari bayangan pemasukan.
Pikirkan kembali tentang listrik. Hari ini, sangat jarang perusahaan yang berminat membangun investasi di bidang listrik secara jangka panjang, padahal sector ini sendiri dapat mengalami kebuntuan, seperti krisis listrik yang terjadi di Kalifornia pada tahun 2000.
Resiko operasional TI tentu berkorelasi dengan banyak hal, seperti kompleksitas teknis, kemampuan layanan, rekanan yang tidak sepadan, keamanan, karena sebagian perusahaan TI telah berpindah dari perusahaan yang memegang kendali penuh atas seluruh operasi, menjadi perusahaan yang membangun perusahaan sub-kontrak, atau bahkan sebatas bekerja sama dengan perusahaan lain.
Apa yang seharusnya dilakukan adalah sebagai berikut.
Minimalisir pengeluaran. Bersaing menjadi terdepan dalam teknologi informasi adalah hal yang rumit dan kompleks, tetapi lebih mudah untuk menjadi yang terbelakang. Dengan menjadi yang terbelakang, banyak pengeluaran yang dapat ditutup.
Ikuti, jangan memimpin. Hukum Moore menjamin bahwa semakin lama kebaruan sebuah kemajuan TI akan semakin murah harganya. Menunggu juga meminimalisir membeli produk yang gagal – sehingga membutuhkan pembaruan dalam waktu dekat.
Fokus pada keberlangsungan, bukan peluang pengembangan. Sangat sedikit perusahaan yang mau menempuh penggunaan teknologi lampau, tetapi sekalipun menggunakan teknologi tebarui, bukan berarti seluruh kemampuan tersebut sudah dimiliki. Sehingga perusahaan yang ada mestinya lebih memersiapkan peluang menuju keberlangsungan produk TI yang digunakannya.
Jangan terjebak oleh permainan perusahaan produsen TI yang mengarahkan penggunanya untuk selalu menggunakan piranti keras dan lunak yang baru, karena tidak jarang kemampuan yang diberikan alat tersebut menjadi lebih jauh dari kebutuhan yang ada. Seperti dalam contoh sebelumnya tentang penggunaan computer kantoran, demikian pula yang dikemukakan majalah Computerworld bahwa 70% dari kapasitas penyimpanan Windows Network justru tidak digunakan.
Banyak perusahaan di era ‘90an justru menghadapi kebangkrutan ketika memutuskan untuk mendapatkan teknologi yang paling baru, atau karena ketakutan tersaingi dalam hal kebaruan teknologinya. Para pengguna yang cerdik seperti Dell dan Wall Mart justru menunggu teknologi tersebut menjadi umum lebih dulu, sebelum memutuskan untuk menggunakannya. Mereka membiarkan kompetitornya berhasil mendahului, untuk kemudian mengambil teknologi yang sudah mapan dengan harga lebih murah. Hal ini senada dengan keputusan seorang salesman dunia, Larry Ellison dari Oracle yang mengatakan bahwa “banyak perusahaan mengeluarkan dana terlalu besar untuk TI, dan menerima pemasukan yang lebih sedikit”. Sehingga, kunci kesuksesan perusahaan dalam TI bukan lagi dengan mendapatkan teknologi yang paling mutakhir, tetapi dengan cara menghitung secara teliti resiko dan pengeluaran.
II. INDONESIA DAN TEKNOLOGI INFORMASI
Ketika Bill Gates sudah bertahun-tahun dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia berkat bidang yang ditekuninya, Indonesia baru mengalami usaha komputerisasi dari sekolah tingkat dasar hingga pegawai pemerintahan terendah. Tentu menjadi wajar bila sebuah perusahaan sebesar Microsoft saja belum genap lima tahun memiliki kantor perwakilan di Indonesia. Akan tetapi, gambaran ini tentu dengan mudah dilupakan orang banyak, manakala factor-faktor lain yang lebih besar luput diperhatikan. Misalnya dari segi pengguna pengguna internet di Indonesia yang sampai hari ini baru mencapai 27 juta orang, dan baru ditargetkan pemerintah untuk mencapai 50 juta pengguna di akhir 2008. (Kompas, 10/11) Padahal, jumlah tersebut masih tertinggal cukup jauh dari pengguna telepon seluler yang mencapai 60 juta pelanggan di tahun 2007, seperti dikutip Country Manager Intel Indonesia, Budi Wahyu Jati, dan masih mengalami pertumbuhan sebanyak 20,2 persen per tahunnya. (Tempo, 2007)
Beberapa fakta tersebut hendak menyatakan bahwa terdapat jurang pemisah antara percepatan arus teknologi di negara-negara maju dengan Indonesia yang notabenenya sebagai salah satu negara berkembang. Seperti dikatakan Dr Mulya Mashudi, Koordinator Sterring Committee Proyek Evaluasi Riset Sains Teknologi untuk Pembangunan, pada 2002 lalu, disimpulkannya bahwa Indonesia masih menjadi salah satu negara pengimpor teknologi dari negara-negara maju, akibat belum adanya kepercayaan dunia industry Indonesia terhadap hasil penelitian yang diberikan oleh lembaga universitas. Dalam hal ini, faktor konsumtif di masyarakat Indonesia berkontribusi besar bagi perkembangan TI, karena kemajuan teknologi informasi di negara-negara maju (secara empiris) berasal dari daya kreasi dan inovasi masyarakatnya, sebagai jawaban dari kebutuhan yang terus berkembang.
Pertanyaannya kemudian adalah: di mana letak korelasi antara pola penerapan teknologi informasi Indonesia dengan pernyataan Carr tentang TI sebagai komoditas yang kian diabaikan penggunanya – sehingga membutuhkan strategi khusus dalam menjalankan bisnis di bidang ini. Pertimbangan penentuan posisi tersebut bisa dilakukan melalui gambaran sebagai berikut.
1. Dalam soal perkembangan teknologi informasi, Indonesia jauh berada di belakang negara-negara maju, sehingga ekses dari melimpahnya fitur-fitur teknologi dalam sebuah produk yang dijual perusahaan-perusahaan produsen TI akibat tingginya tingkat persaingan di antara mereka, justru membuka peluang bisnis yang lebih besar bagi perusahaan TI Indonesia untuk menjual produk melalui sub-sub produk tertentu – dengan sumber yang sama. Dengan begitu, pemasukan yang diperoleh (mungkin) lebih besar dari estimasi yang bisa dikaji para vendor sendiri.
2. Masih soal ketertinggalan teknologi, pemerintah Indonesia maupun kalangan “melek TI” belakangan terus menggembar-gemborkan komputer dan internet bagi seluruh masyarakat. Terserapnya secara luas sub-bidang teknologi informasi ini diharapkan dapat membuka jalan percepatan pendidikan – yang berujung pada daya saing produktif lembaga maupun perseorangan, seperti program Internet Masuk Sekolah dan Internet Masuk Desa. Dalam hal ini, TI sebagai komoditas jelas tergambar, tetapi fungsinya justru tidak diabaikan – malah sebaliknya difungsikan untuk terus berkembang.
3. Ketika banyak perusahaan multinasional mulai menjalankan berbagai program anti-pembajakan, apakah demikian halnya dengan produsen TI di Indonesia? Dari sisi pembajakan sebagai sebuah kecurangan, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Akan tetapi, dari sisi penjualan produk-produk TI hasil karya anak bangsa, perbandingan penanggulangan pembajakan tidak berbanding lurus dengan pemasukan penjulan produk mereka. Seperti dikatakan Mulya Mashudi, berbagai perusahaan di Indonesia masih “belum percaya” akan kemampuan hasil kreasi dalam negeri.
4. Masyarakat Indonesia sampai hari ini masih menyisakan banyak kesenjangan pengetahuan dan pemahaman tentang teknologi informasi. Mahalnya produk-produk TI meskipun memberikan beragam fitur, ternyata belum mampu diserap kalangan luas. Jika kemampuan penyerapan TI di Jawa tergolong berkembang dalam 10 tahun terakhir, tidak demikian halnya dengan penyerapan di pulau-pulau lain. Artinya, masyarakat Indonesia justru membutuhkan lebih banyak lagi produk TI untuk meluaskan bidang ini.
5. Bahwa setiap perusahaan yang bergerak di bidang TI memerlukan koreksi ketat terhadap pengeluaran produknya, pernyataan ini (mungkin) sudah dilakukan oleh salah satu provider Indonesia – PT Exelcomindo Pratama – yang menjual 7.000 BTS (atau seluruh menara yang dimiliki) tanpa mengambil sekecilpun saham di dalamnya. Ini tentunya sesuai dengan karakteristik teknologi informasi yang dibicarakan Carr di awal, bahwa yang dibutuhkan bukanlah sebuah perusahaan multisektor seperti halnya perusahaan konsumsi yang mampu menguasai industry dari hulu ke hilir, tetapi perusahaan yang menciptakan produk sesuai kebutuhan pasar. Lihat saja bagaimana setelah pelepasan asset tersebut, Exelcomindo justru mulai menambah produk usahanya dengan mengikuti tren “SMS Berhadiah” tanpa menghilangkan “jor-joran” penjualan tarif murahnya. Apakah dengan ini para eksekutif Exelcomindo telah mempraktekkan pandangan Carr? Mungkin saja, tetapi dengan membubuhi kelihaian marketing mereka sendiri menciptakan produk – sehingga hanya kalangan menengah ke atas yang tidak tertarik mengambil pilihan yang ditawarkan.
III. PENUTUP
Pandangan Carr walau bagaimanapun memiliki kekurangan dari sisi implementasi di Indonesia, yaitu dari segi keluasan penyerapan produk TI pada masyarakat, minimnya produsen TI Indonesia, dan pola penyerapan teknologi sebagai negara pengimpor teknologi. Secara asumtif, produsen TI yang menggali kerugian memang hanya terjadi di belahan Amerika atau (mungkin) beberapa negara di Eropa. Di sisi lain, Microsoft Corporation misalnya, justru meluncurkan jargon “People Ready” untuk membantah pernyataan Carr. Ketika Carr membayangkan bahwa “teknologi informasi itu kelak tidak ubah dengan air atau listrik, hanya sebuah kebutuhan pokok manusia dan biasa saja,” Jeff Price, Direktur Senior Windows Server mengatakan bahwa, “teknologi informasi seperti apa yang membuat orang siap memanfaatkan potensinya? Teknologi informasi berupa program piranti lunak yang mudah digunakan!”
Saling bantah tersebut menjadi cermin lain bahwa ungkapan yang satu ternyata menguatkan produsen yang lain, dan tentu bermuara pada persaingan produk semata. Padahal, persaingan semacam ini masih jauh dari kondisi faktual produsen TI Indonesia, akibat besarnya jumlah penduduk tidak sebanding dengan daya serap teknologi di masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa permasalahan vendor-vendor TI skala internasional tersebut bisa saja dialami vendor-vendor local, tetapi ketika Indonesia masih terus menjadi Negara “pengimpor teknologi”, tantangan terberat justru adalah upaya untuk menciptakan kemandirian dalam bidang TI.
***