Isu Legalisasi Masih ‘On’

Thursday [January 7, 2010]

Pro-Kontra Ganja untuk Pengobatan

Sejak negara bagian California melegalkan penggunaan ganja sebagai pengobatan alternatif pada 1996, kali ini giliran warga negara bagian Texas yang memulai pro-kontra untuk mengadopsi undang-undang green stuff (mariyuana) di wilayah mereka. Demikian pula di Indonesia yang sempat mencuatkan legalisasi ganja pada 2007 lalu, meski hingga saat ini tetap minim simpati.

Di Indonesia, penggunaan ganja atau mariyuana sama sekali dilarang dengan alasan apapun. Sedang bagi warga AS, beberapa negara bagian sudah melegalkan penggunaan ganja sebagai pengobatan alternatif, seperti obat penyakit saraf optik mata (glaukoma), mengobati kram, mengurangi stres, digunakan sebagai campuran aroma terapi, mengobati sakit kepala, migrain, hingga mengobati mual.

Setelah 14 negara bagian mengadopsi undang-undang pelegalan mariyuana, nagara bagian Texas memulai pro-kontra baru di masyarakat. Kubu pendukung legalisasi, Coalition for Compassionate Care, menuntut legalisasi demi perawatan yang baik bagi pasien. “Misi kami sederhana. Ini saatnya bagi penderita sakit parah untuk keluar dari pertarungan melawan obat,” tutur Stephen Betzen, Direktur CFCC. Ia mendirikan koalisi tersebut setelah melihat dampak pengobatan mariyuana pada isterinya. “Sungguh menyakitkan ketika Anda hanya bisa melihatnya menangis karena sakit. (Tetapi) setelah seminggu menggunakan mariyuana, kami menari bersama di ruang keluarga,” kenang Betzen.

Namun, bagi kubu konservatif yang kontra, Texas Eagle Forum, ide tersebut sudah diultimatum tidak akan lolos dalam pembahasan di senat. Menurut TEF, para remaja akan menyalahartikan penggunaan tersebut, dan pada akhirnya mendorong legalisasi bagi semua orang.”Saya pikir lebih banyak dampak negatif ketimbang positifnya,” jelas presiden TEF Pat Carlson.

Pada pertengahan November 2009 lalu, warga Oregon sudah menikmati cafe yang menjual ganja secara legal. Cannabis Cafe di kota Portland itu mendapat ijin pemakaian mariyuana secara bebas, khusus bagi anggota terdaftar dan tidak boleh dibawa keluar. Saat ini, sudah tercatat 21.000 orang sebagai pasien di sana. Kehadiran mereka tidak terlepas dari saran dokter menggunakan mariyuana untuk mengobati rasa sakit kronis, seperti alzheimer, diabetes, sakit pada saraf pusat (multiple sclerosis), maupun sindrom Tourette.

Di Indonesia sendiri, pada 2007 lalu mantan Wapres Jusuf Kalla pernah mencetuskan legalisasi ganja sebagai bahan pengobatan. “Kalau itu untuk kesehatan bisa saja. Tapi kalau buat teler tentu tidak boleh kan,” jelasnya kala itu. Ucapan ini tidak terlepas dari rencana Badan Narkotika Nasional (BNN) yang berencana mengkaji pelegalan ganja. Bahkan hingga hari ini, terdapat sekitar 27.000 facebooker yang mendukung legalisasi ini, dan kurang dari 500 orang yang menolak legalisasi. Bagaimana dengan Anda?

[Dari berbagai sumber, sent to Melinda-Hospital.com @ 06 Januari 2010]


Obat Indonesia Hanya Untuk Ekspor

Wednesday [January 6, 2010]

Dalam sebuah diskusi tentang HIV/AIDS di Jakarta, terungkap bahwa keterlambatan pasokan obat seperti antiretroviral lini 1 yang merupakan obat dengan konsumen terbanyak, ternyata dilatari oleh minimnya kepedulian pemerintah. Ironisnya, ekspor vaksin perusahaan milik negara PT Bio Farma dari tahun ke tahun tetap meningkat tanpa terguncang krisis ekonomi global. Lalu, untuk siapakah produsen obat diciptakan?

Sungguh membanggakan ketika sebuah perusahaan medis milik negara dapat menancapkan kukunya di pertarungan penjualan obat internasional. PT Bio Farma misalnya, tetap meraup keuntungan mencapai 737,3 miliar pada 2009. Jumlah ini meningkat 54,8 persen dibanding pemasukan 2008 yang mencapai Rp 476,2 miliar.

Meski dunia dilanda krisis global, tetapi ekspor yang ditujukan ke 110 negara tetap meningkat dari tahun ke tahun. ”Seiring peningkatan produksi vaksin, permintaan ekspor tiap tahun juga selalu naik,” jelas Kepala Bagian Humas PT Bio Farma Tedi Herawan, seperti dikutip dari Kompas (04/01).

Ironisnya, pendapatan yang tinggi dari penjualan produk medis nampaknya kurang memberi andil terhadap kelangsungan produksi obat dalam negeri. Menurut Prof DR dr Samsuridjal Djauzi SpPD, Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, produksi obat selama ini tidak berkembang disebabkan oleh dukungan dan kepedulian pemerintah terhadap produksi obat dalam negeri.

Dalam diskusi yang digagas Unit Pelayanan Terpadu HIV Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Cipto Mangunkusumo tersebut, Samsuridjal mengkhawatirkan membanjirnya obat-obat antiretroviral (ARV) impor. Persaingan ini bisa menyebabkan produksi dalam negeri berkurang atau bahkan berhenti, seperti dilansir HU Kompas (04/01).

Tingginya permintaan pasar atas ARV non-impor disebabkan oleh estimasi pembiayaan yang terpaut jauh dengan ARV impor. Jika pembiayaan menggunakan ARV impor mencapai Rp 8-10 juta per bulan, ARV lokal hanya membutuhkan Rp 4,2 juta per tahun untuk setiap orangnya.

[dari berbagai sumber, sent to Melinda-Hospital.com @ 04 Januari 2010]


Lanjutkan!!!

Thursday [July 9, 2009]

Populer karena iklan pra-pemilu kemarin, istilah ini mungkin bisa bertahan 2-3 bulan ke depan. Berusaha menerapkan program yang sudah “berhasil” dalam 5 tahun sebelumnya, duet SBY-Boediono mengampanyekan istilah “lanjutkan” sebagai jargon populis mereka. Tanpa merasa risi dengan kegagalan pemerintahan yang juga nampak, pasangan nomor 2 dalam Pemilu 2009 ini melenggang cepat dalam setiap brain storming yang digalang seluruh media elektronik se-Indonesia.

Kemenangan SBY-Boediono di Pemilu 2009 memang jelas nampak di depan mata, setidaknya semenjak nama calon-calon wapres diumumkan. Ini mungkin prediksi pribadi yang generalis, tapi jadi dasar untuk bilang “SBY akan menang lagi!”- seperti begini.

[1] Prabowo:
wapres pintar, presidennya yang nggak banget!… Bicara lugas, konsisten dengan isu dan dasar tuntutan, program dimengerti masyarakat kecil-mayoritas…..tapi, orang kemudian memandang Mega. Dan di situlah letak kelemahannya.
Padahal Prabowo gak mungkin bersatu dengan SBY, karena punya pijakan yang beda jauh. Prabowo lebih merupakan praksis petani-nelayan – dan karenanya lebih membumi bagi minoritas yang jumlahnya mayoritas, SBY lebih mengambil hal-hal yang lebih besar di permukaan untuk merangkul semua kalangan.

[2] Boediono:
kemayu dalam politik, santun berdebat, punya program dan staff ahli yang bisa diandalkan
Nyaris gak punya track-record buruk di kalangan awam politik, membuat figur orang ini lebih disukai masyarakat. Terlebih setelah sebelumnya sempat terjadi gonjang-ganjing nama wapres dari partai-partai pendukung, orang banyak tidak menitiberatkan kepiawaian Boediono dalam merancang program ekonomi, tapi lebih sebagai pilihan cerdas SBY menarik teknokrat untuk memutus rantai persaingan antar parpol pendukung.

[3] Wiranto:
taktis dalam berpolitik, nomor 1 soal pertahanan, piawai dalam berdebat
Toh orang lebih melihat sebagai “orang Golkar” yang keluar demi mengatrol jabatan pucuk pemerintahan. Tidak ada program yang bisa ditanam dalam hati masyarakat mayoritas menjadi persoalan kemudian, karena program-program memang lebih banyak didominasi Golkar.

Lanjut!…kan
Tapi yang mau ditulis memang sudah selesai, karena isinya memang hanya sampai di poin-poin atas. Lebih menarik membahas apa yang akan terjadi 1-2-3 tahun kedepan; seberapa kuat penetrasi asing di Indonesia kemudian(?); seberapa banyak program melenceng yang tercipta(?); seberapa jauh kekuatan oposisi yang bisa dibangun(?); seberapa besar peluang calon presiden baru dalam 5 tahun kedepan(?)

Karena pilihan dalam Pemilu 2009 adalah memilih pemimpin buruk dari yang terburuk, karena toh sampai hari ini belum juga muncul sosok pemimpin yang mau melakukan pendidikan politik untuk rakyat secara masif – kecuali yg dilakukan PKS untuk kader dan simpatisannya, sehingga sampai kapanpun Pemilu tetap akan berakhir dengan pesta politik permukaan, bukan pesta politik secara nyata.

Jadi? Ya… lanjutkan!…lagi ;P


Serial Number Software

Friday [April 17, 2009]

Wah… kelamaan sudah gak upload tulisan :(
semuanya nangrking di draft mulu, belom sempat diposting

jadi, mengutip kata para expert soal menulis “untuk mulai menulis, tulisalah apa saja yg Anda inginkan…”, jadi tulisan sekarang soal serial number software.

prolognya begitu, lanjutannya…

——————————–

sekarang ini, setiap beli software di tukang CD, soal serial number pasti gak ketinggalan. masalahnya, kalo software dapet dari hasil download, ada 2 tipe yg biasa kita temuin:

1. software trial
karna trial gak mungkin ada serial number apalagi crack/pacth.
pemakaian jadi terbatas dong, padahal kita kan ada di negara pembajak (ups!)
2. software + crack
beberapa situs seperti rapidshare, megaupload, easyshare, dlsb sering ngasi yg beginian. tinggal punya akun premium di sana (atau jadi limer bentar), bisa dapet yg full gratis. kalo gak punya akun premium dan gak bisa jadi limer… silahkan kembali membeli CD, jangan jadi tukang download gratisan :mrgreen:
1 lagi (ampir lupa), download via torrent. ini rata2 maknyus ngasi software gratisannya, tapi berhubung koneksi internet di endonesa begitu… lambat!, jadilah banyak orang lebih seneng punya akun premium. buat beberapa software kecil, download model ini sangat dianjurkan: gratis dan (sangat) jarang berisi virus.

tapi, namanya juga dunia maya… ada aja cara orang buat berbagi di atas keuntungan orang lain (maksudnya, para perusahaan IT pencipta program tu pasti negara2 besar yg udah punya pasar tetap, dan punya keuntungan tetap… semoga bukan asumsi doang, apalagi kalo contohnya perusahaan mikocok itu…)

so, dari taun kapan sudah bermunculan situs2 penyedia layanan gratis soal serial number. sebelum booming situs jasa seperti rapid, dkk itu, gw sendiri demen banget nyari situs2 begini. manfaatnya lumayan soalnya, dari mulai software trial bisa jalan full, sampe ngeganti serial number ato pacth yg gak jalan waktu beli CD dari tukang CD bajakan.

beberapa situs yg taun lalu masih gw buka seperti:

serial.ws
serial.am (almarhum)
thebugs.ws
smartserials.com (baru tau tadi)

banyak banget situs2 begini, dan gak jarang mereka sebenernya cloningan 1 dengan yg lain.
3 yg ditulis itu masi inget karna bukan klonengan, dan masing2 punya kelebihan. mana yg lebih bagus? kayaknya masi ada yg lebih bagus ketimbang mereka, tapi gw sendiri udah ngerasa cukup berkunjung ke sana :rose

trus, jadi selanjutnya bejimana?
ya.. maksudnya si, silahken dicoba situs2 tersebut untuk mengetahui kemampuan data base serial number mereka. kalo di 4 situs itu masih gak nemu juga… silahken posting di bawah buat minta serial number yg dibutuhin. insya allah bisa gw bantu :)


AVG 8 Kewalahan Basmi Virut

Saturday [March 21, 2009]

Nyaris 10 hari belakangan komputer gw kerja rodi, karena beberapa file didompleng malware sampe virus Win32/Virut. Dengan AVG 8 versi Free, malware pun gak bisa diclean. Download AVG 8.5 ternyata gak pengaruh pula… si virus masih ada. AVG bisa ngedetect dan block library virus & malware, tapi gak bisa tuntas cleaning.

Virut Removal
Nyobain download (khusus) Virut Removal dari AVG juga belum nyelesein masalanya. Ini mungkin karna malwarenya keburu aktif waktu modzila dibuka, langsung deh doi running registri yg nyuruh file2 library kayak 5.tmp, 21.tmp, dll… (banyak banget, tapi yg pasti selalu berekstensi .tmp itu).

Slave HD, Reinstall Windows
Berhasil di kompi yg satu, gak begitu dengan yg laen. Anehnya, ada juga kompi yg cuma perlu diganti beberapa file windows (dapet hasil googling) yg rusak karna virus. Ini jelas masalah gak ngerti pemrograman, jadilah cuma bisa menilai dari kecenderungan empiris yg subjektif =)

Malware Removal
Males banget nyobain… entar ada 2 program running yg monitoring memory.

Akhirnya, install Kaspersky
Pertama nyobain yg terbaru: Kaspersky Internet Security 2009. Virus emang pada ilang, dan banyak juga aplikasi di HD ilang karna file2 utama terjangkit, dan gak bisa di “disinfect”. Ini karna KIS 2009 gw gak update data basenya. Buat update tentu mesti pake trik laen untuk keleluasaan download berkala. Mesti browsing lagi, dan nyobain… pastinya makan waktu, padahal orang2 udah pada mo make kompi mereka. Soalnya, dari percobaan update dengan KIS Key bajakan, setelah update dan minta restart, begitu masuk windows KIS nya report bahwa Key di black list. Kan…? Suebell jadinya!

Kaspersky Anti Virus 7
Buka2 folder lama, trus ketemu Kaspersky Anti Virus 7. Cobain dulu nii.. karna yg 2009 berhasil detect, mungkin yg ini working kalo update.. dan pastinya gak makan waktu terlalu banyak buat update. Dan.. memang, berhasil. Step2 yg gw pake ada 2 cara seperti begini:

1. Slave HD
- Install KAV di 1 kompi, running dengan serial trial secara online, update virus data base online (bisa download terpisah biar manual update)
- slave HD pake window yg udah terinstall KAV 7, running MyComputer scan, dan berakhir sudah

2. Format HD
- Format HD pake CD setup Windows yg bootable, installnya seperti biasa aja
- install KAV 7, running, dan virus ilang

gw pake 2 cara itu karna kompi yg satu bisa jalan dengan cara yg satu, dan kompi yg laen dengan cara yg beda. jadi, tergantung enaknya aja, dan tergantung tingkat parahnya virus nyerang file2 yg ada. :)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.