“Kita ke Lisung Aja”

Friday [January 15, 2010]

Begitu ajakan seorang teman yang getol mengejar lokasi kuliner nan nyaman di Bandung. Tanpa basa-basi lagi, kendaraan pun segera beriringan menjauhi pusat kawasan Dago yang masih disibukkan dengan lalu-lalang kendaraan. Udara makin terasa sejuk ketika jalan Dago Pakar Timur dijajaki. Tak lama kemudian, bangunan berkonstruksi kayu di sebelah kanan jalan itu ditemukan, dibangun meniti lereng, untuk menyuguhkan kecantikan lain dari kota Bandung.

Meski berada di atas bukit, beberapa lokasi wisata di kawasan utara Bandung memang dapat dicapai dengan kendaraan roda empat. Ini tentu menjadi keuntungan tersendiri, tatkala keinginan berekreasi dengan teman, kekasih, hingga kolega bisnis menuntut dipenuhi. Setelah memarkir kendaraan di areal yang tidak terlalu luas, rasa penasaran masih menggerenjul dalam hati. Mengapa tempat ini begitu akrab di telinga penggemar wisata kota?

Namun begitu menuruni tangga masuk, jawaban demi jawaban mulai terjawab. Pemandangan yang ditawarkan Lisung memang bukan sekadar melihat kota Bandung dari atas bukit. Pemandangan tidak akan ada artinya tanpa kenyamanan tempat duduk, ramahnya pelayan yang mengayomi para tamu, hingga sajian hidangan yang variatif. Untuk yang terakhir ini, berbagai menu seperti nasi panggang, nasi goreng, sop buntut, sandwich, zupa-zupa, pizza, hingga spaghetty dapat ditemui di sini.

Saat dihubungi terpisah, Manager Operasional Lisung, Iwan, menuturkan pada MD bahwa menu yang dibuat memang berusaha melingkupi masakan Indonesia dan Western. Pria yang sebelumnya berlakon sebagai Chef hotel tersebut menjelaskan bahwa sajian makanan harus menyesuaikan dengan selera dan saku konsumen, sekaligus mengikuti perkembangan. “Bagaimana caranya agar penyajian makanan dapat dilakukan dengan cepat, tanpa berpengaruh pada rasa makanan, dan dijual dengan harga murah,” papar lelaki kelahiran Cilacap tersebut dengan antusias.

Menu
Kebutuhan yang saling bersinggungan tersebut pada akhirnya membuahkan resep menu yang unik sekaligus pas di lidah wisatawan lokal. Sebut saja kreasi seperti menu unggulan Nasi Panggang Lisung yang merupakan nasi bakar isi jamur, tauge, dan ati ampela. Penyajiannya sendiri dibarengi dengan ayam goreng, tahu, tempe, dan kerupuk. Lalu Nasi Panggang Koempeni yang ditaburi small beef, jamur, irisan bawang bombay, lalu ditutup dengan taburan keju mozarela sebelum dipanggang hingga keju mencair. Anehnya, menu unggulan bagi Lisung bukan menu tersebut paling laris dipesan. Pengunjung justru lebih sering memesan Sop Buntut Pedas, bahkan bila dibandingkan dengan menu sejenis, seperti Sop Buntut Kuah, dan Sop Iga. “Mungkin karena suhu di sini (dingin), pengunjung lebih memilih masakan pedas,” kata Iwan.

Lain lagi dengan Danny, salah seorang pengunjung Lisung yang memilih Nasi Liwet Lisung karena ekonomis, sekaligus menyenangkan menyantap nasi hangat di tengah udara dingin. Kali itu ia memang datang bersama serombongan teman-teman, sehingga memilih makanan yang bisa dikecap selera bersama. Sedang Henne memilih berganti makanan setiap kali datang. “Kadang nasgor, kadang steak, atau timbel. Semua dicoba aja,” ujar gadis yang sering mengunjungi Lisung.

Untuk pilihan minuman racikan cokelat, teh, maupun kopi tentu bisa jadi peneman udara dingin yang menarik. Uniknya, tampilan menu dinami dengan lagu atau band mancanegara, seperti The Clash untuk hot and cold coffee, Nice Dream (Radiohead) untuk cold chocolate, Dark Shine (Muse) untuk mix cold coffee. Namun Anda juga masih dapat memilih aneka minuman lain, seperti Blue Stone dan Blossom Diary untuk mocktail. “Mungkin pemiliknya nge-fans band-band itu,” kelakar Danny yang gemar memesan Lisung Tea.

View
Sedang menurut Yanwar yang datang bersama isterinya, Lisung menjadi tujuan demi pemandangan yang menarik. Soal menu yang disajikan hanya menjadi opsi nomor dua, karena tempat yang mengasyikkan akan membuat makanan apapun terasa nikmat. “Coba saja kalau Mas datang malam minggu ke sini. Jangankan nikmat,
kiri-kanan malah penuh orang, antrian mobil sampai ke bawah,” terangnya bersemangat, diiyakan sang isteri yang tersenyum di sebelahnya. Tak ayal, janji keindahan pemandangan tersebut membuat para kawula muda Bandung yang menginginkan romansa bersama kekasih, memilih Lisung sebagai tempat favorit seperti Henne yang menjadikan Lisung sebagi lokasi favorit bersama si Cinta.

Bukan itu saja, para selebritis hingga tokoh politik pun terlanjur terpincut keindahan Lisung. Seperti halnya Aming yang melaunching filem terbarunya di awal 2010 lalu, atau Luna Maya yang acapkali membuat para pelayan tertegun saat melayani di tiap kunjungannya. “Banyak sebetulnya artis yang datang, tapi saya baru dikasih tahu teman-teman setelah mereka pulang. Maklum, kurang banyak tahu soal selebritis,” jelas Iwan merendah. Ditambahkannya, pemandangan dengan makanan peneman yang tidak menguras saku memang membuat pejabat sekelas pejabat nasional pun senang berkunjung. Sebut saja Wagub Jabar Dede Yusuf, Direktur Ekonit Rizal Ramli, hingga Kabareskrim Polri Ito Sumardi.

Interior dan Eksterior
Menurut Yanwar, pengunjung betah melihat pemandangan karena mereka mendapat barang yang nyaman sekaligus unik. Lelaki bermata sipit itu menambahkan kalau pengunjung yang datang di siang hari mungkin belum dapat merasakan sensasi pemandangan sebenarnya, tetapi yang penting mereka merasa nyaman untuk duduk dan menghabiskan makanan yang cukup enak. “Ini, Mas, bangku kayu, lalu meja kayu, saung, atau tanamannya. Ini semua yang bisa bikin kita betah ‘nunggu malam, bahkan di tengah udara dingin,” jelasnya sambil menyeruput Nice Dream. Sedang Iwan “Lisung” menjelaskan bahwa filosofi bangunan yang menuntut penyesuaian dekorasi interior, sebenarnya dipilih mengikuti nama Lisung sendiri. Dengan arti kata alat penumbuk padi yang digunakan untuk menghasilkan beras secara tradisional, bangunan kayu dan perabotan tradisional pendukung akan menjadi menarik dengan harga murah. “Kami untung di dua sisi, karena bangunan dan perlengkapan tidak terlampau mahal, tapi kesan uniknya juga menonjol,” ucapnya renyah.

Ditambahkan Iwan, konsep tempat yang ingin dicapai sendiri sebenarnya soal harga. Bagian depan Lisung misalnya, sengaja tidak diutak-atik terlalu banyak, agar para pengunjung pertama kali tidak mendapat kesan tempat yang mahal. “Saya ingin Lisung terlihat seperti warung saja. Itu lebih baik ketimbang pelanggan enggan berkunjung karena takut tidak sanggup membayar,” seloroh lelaki yang mengaku mencetuskan ide pendirian Lisung ini.

Pelayanan
Jika tempat dan peralatan sudah memadai, tentu tidak mungkin pelanggan betah berkunjung dengan layanan yang buruk. Selidik punya selidik, Iwan ternyata menerapkan pola manajemen “bapak dan anak” pada bawahannya. Menurut lelaki bekepala plontos tersebut, tipe manajemen vertikal sudah dibuktikannya dengan akibat pegawai yang rentan keluar-masuk. “Malah jadi menambah pekerjaan untuk supervisor, karena harus selalu mengarahkan dan mengajarkan orang-orang baru,” keluhnya. Sedangkan dengan pola manajemen horizontal yang digunakannya, karyawan menjadi lebih santai mengerjakan tugas-tugas mereka, tanpa mesti menelantarkan tanggung jawab yang diberikan. Dengan teladan ini pula, 35 karyawan Lisung dapat mengayomi para pelanggan dengan ramah, rajin menjaga kebersihan tempat, hingga telaten mengurus taman.

Meski demikian, Iwan tidak menutup adanya komplain dari pelanggan Lisung. Dikisahkannya, salah satu pengunjung pernah menggerutu karena lamanya menerima pesanan. Iwan yang kebetulan lewat dekat situ, serta-merta memohon maaf dan mengambil alih pesanan tersebut. “Langsung saya ke dapur dan membuatkan sendiri pesanannya,” cerita Iwan. Dilanjutkannya, sikap ini penting untuk menunjukkan bahwa Lisung bukan manajemen yang kaku, tapi justru sebaliknya, sangat terbuka terhadap komplain pelanggan. “Silahkan kontak langsung Pak Iwan saja kalau ada apa-apa,” janji lelaki bertubuh gempal tersebut. “Termasuk jika perlu negosiasi harga untuk acara kegiatan dengan budget terbatas,” tambahnya.

Seiring waktu yang mulai beranjak malam, lampu-lampu mulai dinyalakan di sana-sini. Wujud unggulan Lisung mulai nampak. Areal taman menjadi kian anggun dalam paduan warna rumput gelap dan cahaya lampu kuning. Rombongan-rombongan lain mulai berdatangan, sedang saya sendiri terpaksa meminta pulang lebih awal akibat dinginnya cuaca yang menerobos kulit tanpa jaket memadai. “Bayar dulu ya,” gurau seorang teman, tetapi sempat membuat hati sedikit berdegup karena tidak ingat harga-harga pada menu.

“Semuanya Rp 55.000, Mas,” ucap kasir dengan ramah. Saya mengelus dada sambil beradu-cepat dengan langit yang semakin gelap, mengejar pusat kota yang lebih hangat. Di halaman parkir, kendaraan pengunjung lain sudah saling menutupi jalan keluar. Namun, tentu saja, kepadatan tersebut tidak pernah menjadi penghalang untuk merasakan indahnya pemandangan, bertemanhidangan murah, di Lisung.

sent to MegaDiskon.com @ 13 Jan 2010


Isu Legalisasi Masih ‘On’

Thursday [January 7, 2010]

Pro-Kontra Ganja untuk Pengobatan

Sejak negara bagian California melegalkan penggunaan ganja sebagai pengobatan alternatif pada 1996, kali ini giliran warga negara bagian Texas yang memulai pro-kontra untuk mengadopsi undang-undang green stuff (mariyuana) di wilayah mereka. Demikian pula di Indonesia yang sempat mencuatkan legalisasi ganja pada 2007 lalu, meski hingga saat ini tetap minim simpati.

Di Indonesia, penggunaan ganja atau mariyuana sama sekali dilarang dengan alasan apapun. Sedang bagi warga AS, beberapa negara bagian sudah melegalkan penggunaan ganja sebagai pengobatan alternatif, seperti obat penyakit saraf optik mata (glaukoma), mengobati kram, mengurangi stres, digunakan sebagai campuran aroma terapi, mengobati sakit kepala, migrain, hingga mengobati mual.

Setelah 14 negara bagian mengadopsi undang-undang pelegalan mariyuana, nagara bagian Texas memulai pro-kontra baru di masyarakat. Kubu pendukung legalisasi, Coalition for Compassionate Care, menuntut legalisasi demi perawatan yang baik bagi pasien. “Misi kami sederhana. Ini saatnya bagi penderita sakit parah untuk keluar dari pertarungan melawan obat,” tutur Stephen Betzen, Direktur CFCC. Ia mendirikan koalisi tersebut setelah melihat dampak pengobatan mariyuana pada isterinya. “Sungguh menyakitkan ketika Anda hanya bisa melihatnya menangis karena sakit. (Tetapi) setelah seminggu menggunakan mariyuana, kami menari bersama di ruang keluarga,” kenang Betzen.

Namun, bagi kubu konservatif yang kontra, Texas Eagle Forum, ide tersebut sudah diultimatum tidak akan lolos dalam pembahasan di senat. Menurut TEF, para remaja akan menyalahartikan penggunaan tersebut, dan pada akhirnya mendorong legalisasi bagi semua orang.”Saya pikir lebih banyak dampak negatif ketimbang positifnya,” jelas presiden TEF Pat Carlson.

Pada pertengahan November 2009 lalu, warga Oregon sudah menikmati cafe yang menjual ganja secara legal. Cannabis Cafe di kota Portland itu mendapat ijin pemakaian mariyuana secara bebas, khusus bagi anggota terdaftar dan tidak boleh dibawa keluar. Saat ini, sudah tercatat 21.000 orang sebagai pasien di sana. Kehadiran mereka tidak terlepas dari saran dokter menggunakan mariyuana untuk mengobati rasa sakit kronis, seperti alzheimer, diabetes, sakit pada saraf pusat (multiple sclerosis), maupun sindrom Tourette.

Di Indonesia sendiri, pada 2007 lalu mantan Wapres Jusuf Kalla pernah mencetuskan legalisasi ganja sebagai bahan pengobatan. “Kalau itu untuk kesehatan bisa saja. Tapi kalau buat teler tentu tidak boleh kan,” jelasnya kala itu. Ucapan ini tidak terlepas dari rencana Badan Narkotika Nasional (BNN) yang berencana mengkaji pelegalan ganja. Bahkan hingga hari ini, terdapat sekitar 27.000 facebooker yang mendukung legalisasi ini, dan kurang dari 500 orang yang menolak legalisasi. Bagaimana dengan Anda?

[Dari berbagai sumber, sent to Melinda-Hospital.com @ 06 Januari 2010]


Obat Indonesia Hanya Untuk Ekspor

Wednesday [January 6, 2010]

Dalam sebuah diskusi tentang HIV/AIDS di Jakarta, terungkap bahwa keterlambatan pasokan obat seperti antiretroviral lini 1 yang merupakan obat dengan konsumen terbanyak, ternyata dilatari oleh minimnya kepedulian pemerintah. Ironisnya, ekspor vaksin perusahaan milik negara PT Bio Farma dari tahun ke tahun tetap meningkat tanpa terguncang krisis ekonomi global. Lalu, untuk siapakah produsen obat diciptakan?

Sungguh membanggakan ketika sebuah perusahaan medis milik negara dapat menancapkan kukunya di pertarungan penjualan obat internasional. PT Bio Farma misalnya, tetap meraup keuntungan mencapai 737,3 miliar pada 2009. Jumlah ini meningkat 54,8 persen dibanding pemasukan 2008 yang mencapai Rp 476,2 miliar.

Meski dunia dilanda krisis global, tetapi ekspor yang ditujukan ke 110 negara tetap meningkat dari tahun ke tahun. ”Seiring peningkatan produksi vaksin, permintaan ekspor tiap tahun juga selalu naik,” jelas Kepala Bagian Humas PT Bio Farma Tedi Herawan, seperti dikutip dari Kompas (04/01).

Ironisnya, pendapatan yang tinggi dari penjualan produk medis nampaknya kurang memberi andil terhadap kelangsungan produksi obat dalam negeri. Menurut Prof DR dr Samsuridjal Djauzi SpPD, Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, produksi obat selama ini tidak berkembang disebabkan oleh dukungan dan kepedulian pemerintah terhadap produksi obat dalam negeri.

Dalam diskusi yang digagas Unit Pelayanan Terpadu HIV Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Cipto Mangunkusumo tersebut, Samsuridjal mengkhawatirkan membanjirnya obat-obat antiretroviral (ARV) impor. Persaingan ini bisa menyebabkan produksi dalam negeri berkurang atau bahkan berhenti, seperti dilansir HU Kompas (04/01).

Tingginya permintaan pasar atas ARV non-impor disebabkan oleh estimasi pembiayaan yang terpaut jauh dengan ARV impor. Jika pembiayaan menggunakan ARV impor mencapai Rp 8-10 juta per bulan, ARV lokal hanya membutuhkan Rp 4,2 juta per tahun untuk setiap orangnya.

[dari berbagai sumber, sent to Melinda-Hospital.com @ 04 Januari 2010]


Lanjutkan!!!

Thursday [July 9, 2009]

Populer karena iklan pra-pemilu kemarin, istilah ini mungkin bisa bertahan 2-3 bulan ke depan. Berusaha menerapkan program yang sudah “berhasil” dalam 5 tahun sebelumnya, duet SBY-Boediono mengampanyekan istilah “lanjutkan” sebagai jargon populis mereka. Tanpa merasa risi dengan kegagalan pemerintahan yang juga nampak, pasangan nomor 2 dalam Pemilu 2009 ini melenggang cepat dalam setiap brain storming yang digalang seluruh media elektronik se-Indonesia.

Kemenangan SBY-Boediono di Pemilu 2009 memang jelas nampak di depan mata, setidaknya semenjak nama calon-calon wapres diumumkan. Ini mungkin prediksi pribadi yang generalis, tapi jadi dasar untuk bilang “SBY akan menang lagi!”- seperti begini.

[1] Prabowo:
wapres pintar, presidennya yang nggak banget!… Bicara lugas, konsisten dengan isu dan dasar tuntutan, program dimengerti masyarakat kecil-mayoritas…..tapi, orang kemudian memandang Mega. Dan di situlah letak kelemahannya.
Padahal Prabowo gak mungkin bersatu dengan SBY, karena punya pijakan yang beda jauh. Prabowo lebih merupakan praksis petani-nelayan – dan karenanya lebih membumi bagi minoritas yang jumlahnya mayoritas, SBY lebih mengambil hal-hal yang lebih besar di permukaan untuk merangkul semua kalangan.

[2] Boediono:
kemayu dalam politik, santun berdebat, punya program dan staff ahli yang bisa diandalkan
Nyaris gak punya track-record buruk di kalangan awam politik, membuat figur orang ini lebih disukai masyarakat. Terlebih setelah sebelumnya sempat terjadi gonjang-ganjing nama wapres dari partai-partai pendukung, orang banyak tidak menitiberatkan kepiawaian Boediono dalam merancang program ekonomi, tapi lebih sebagai pilihan cerdas SBY menarik teknokrat untuk memutus rantai persaingan antar parpol pendukung.

[3] Wiranto:
taktis dalam berpolitik, nomor 1 soal pertahanan, piawai dalam berdebat
Toh orang lebih melihat sebagai “orang Golkar” yang keluar demi mengatrol jabatan pucuk pemerintahan. Tidak ada program yang bisa ditanam dalam hati masyarakat mayoritas menjadi persoalan kemudian, karena program-program memang lebih banyak didominasi Golkar.

Lanjut!…kan
Tapi yang mau ditulis memang sudah selesai, karena isinya memang hanya sampai di poin-poin atas. Lebih menarik membahas apa yang akan terjadi 1-2-3 tahun kedepan; seberapa kuat penetrasi asing di Indonesia kemudian(?); seberapa banyak program melenceng yang tercipta(?); seberapa jauh kekuatan oposisi yang bisa dibangun(?); seberapa besar peluang calon presiden baru dalam 5 tahun kedepan(?)

Karena pilihan dalam Pemilu 2009 adalah memilih pemimpin buruk dari yang terburuk, karena toh sampai hari ini belum juga muncul sosok pemimpin yang mau melakukan pendidikan politik untuk rakyat secara masif – kecuali yg dilakukan PKS untuk kader dan simpatisannya, sehingga sampai kapanpun Pemilu tetap akan berakhir dengan pesta politik permukaan, bukan pesta politik secara nyata.

Jadi? Ya… lanjutkan!…lagi ;P


Serial Number Software

Friday [April 17, 2009]

Wah… kelamaan sudah gak upload tulisan :(
semuanya nangrking di draft mulu, belom sempat diposting

jadi, mengutip kata para expert soal menulis “untuk mulai menulis, tulisalah apa saja yg Anda inginkan…”, jadi tulisan sekarang soal serial number software.

prolognya begitu, lanjutannya…

——————————–

sekarang ini, setiap beli software di tukang CD, soal serial number pasti gak ketinggalan. masalahnya, kalo software dapet dari hasil download, ada 2 tipe yg biasa kita temuin:

1. software trial
karna trial gak mungkin ada serial number apalagi crack/pacth.
pemakaian jadi terbatas dong, padahal kita kan ada di negara pembajak (ups!)
2. software + crack
beberapa situs seperti rapidshare, megaupload, easyshare, dlsb sering ngasi yg beginian. tinggal punya akun premium di sana (atau jadi limer bentar), bisa dapet yg full gratis. kalo gak punya akun premium dan gak bisa jadi limer… silahkan kembali membeli CD, jangan jadi tukang download gratisan :mrgreen:
1 lagi (ampir lupa), download via torrent. ini rata2 maknyus ngasi software gratisannya, tapi berhubung koneksi internet di endonesa begitu… lambat!, jadilah banyak orang lebih seneng punya akun premium. buat beberapa software kecil, download model ini sangat dianjurkan: gratis dan (sangat) jarang berisi virus.

tapi, namanya juga dunia maya… ada aja cara orang buat berbagi di atas keuntungan orang lain (maksudnya, para perusahaan IT pencipta program tu pasti negara2 besar yg udah punya pasar tetap, dan punya keuntungan tetap… semoga bukan asumsi doang, apalagi kalo contohnya perusahaan mikocok itu…)

so, dari taun kapan sudah bermunculan situs2 penyedia layanan gratis soal serial number. sebelum booming situs jasa seperti rapid, dkk itu, gw sendiri demen banget nyari situs2 begini. manfaatnya lumayan soalnya, dari mulai software trial bisa jalan full, sampe ngeganti serial number ato pacth yg gak jalan waktu beli CD dari tukang CD bajakan.

beberapa situs yg taun lalu masih gw buka seperti:

serial.ws
serial.am (almarhum)
thebugs.ws
smartserials.com (baru tau tadi)

banyak banget situs2 begini, dan gak jarang mereka sebenernya cloningan 1 dengan yg lain.
3 yg ditulis itu masi inget karna bukan klonengan, dan masing2 punya kelebihan. mana yg lebih bagus? kayaknya masi ada yg lebih bagus ketimbang mereka, tapi gw sendiri udah ngerasa cukup berkunjung ke sana :rose

trus, jadi selanjutnya bejimana?
ya.. maksudnya si, silahken dicoba situs2 tersebut untuk mengetahui kemampuan data base serial number mereka. kalo di 4 situs itu masih gak nemu juga… silahken posting di bawah buat minta serial number yg dibutuhin. insya allah bisa gw bantu :)